Monday, June 20, 2011

Sebuah Persembahan

Matahari menuju peraduannya di ufuk barat, meninggalkan bekas kuning kemerahan di langit. Pemandangan yang begitu menakjubkan, alamNya yang selalu menyajikan tayangan yang tak pernah membosankan untukku. Suara debur ombak , angin yang berjalan pelan-pelan membelai lembut kulitku dan keberadaanmu disampingku yang menambah kesempurnaan suasana sore ini. Air yang keluar deras dari sudut matamu sedari tadi mulai surut perlahan-lahan. Kau yang selama ini begitu mempercayaiku, tempatmu mencurahkan seluruh isi hatimu, membagi bebanmu bersamaku. Sepertinya tak habis cerita dari bibir mungilmu tentang dia yang selalu menyakiti hatimu sekaligus membahagiakan hatimu. Dia yang selalu kau damba, kau puja dengan sepenuh hatimu. Dan mungkin saat ini adalah saat terberat dalam hidupmu , saat kau harus meninggalkannya, memaksakan hatimu melepaskannya. Pasti sakit bukan? Sesakit hatiku yang sekarang melihatmu seperti manusia yang kehilangan kehidupannya. Layaknya jatuh ke dalam jurang yang dalam dan gelap. Kau pun tak menemukan apapun bahkan untuk menemukan dirimu sendiri. Disana kau berteriak memanggil namaku. Kenapa bukan namanya yang kau panggil? Seperti biasanya , aku pasti datang seperti sosok malaikat yang mengulurkan tangannya dan membawa cahaya untuk menghapus kegelapan dihatimu. Melihatmu tanpa daya, aku ikhlaskan semua kekuatanku kau rampas. Mengapa aku harus melihatmu begitu lemah? Sosok yang tak pernah kau perlihatkan padanya. Kau yang selalu penuh tawa tampil sempurna didepannya, dan kenapa kau harus menampakkan sosokmu yang lain yang tidak aku sukai didepanku? Bagaimana caranya mengembalikan senyummu yang begitu indah itu? Apa aku harus menjadi dirinya? Kau tahu aku selalu ada. Kau tahu aku lah yang paling mengerti dirimu. Kau juga tahu aku mengetahui dirimu seutuhnya. Dan yang perlu kau tahu aku menerima dirimu apa adanya. Apakah itu tidak cukup untukmu? Kau masih saja mempersembahkan hatimu padanya, meskipun dia selalu mengoyak hatimu. Kau masih saja membuka pintu hatimu, meskipun berkali dia merusaknya. Aku tidak tahu mengapa aku seperti ini. Mengapa dadaku begitu sesak. Mengapa aku selalu ikut sakit melihat kepedihanmu dan bahagia melihat kebahagiaanmu? Apakah ini yang dinamakan cinta? Apakah cintaku memang untukmu? Atau hanya aku sudah terbiasa denganmu? Kau hadiahkan rasa terimakasihmu padaku atas apa yang telah aku lakukan selama ini padamu. Aku sangat bahagia mendengarnya, tapi mengapa aku merasakan semua itu belum cukup? Aku menginginkan lebih dari itu.
Tuhan, Kau tahu apa yang aku rasakan sekarang.
Aku menertawakan diriku sendiri. Bagaimana bisa aku mengharapkan lebih? Bahkan aku tidak pernah mengatakan apapun padanya tentang sesuatu yang aku rasakan.
Tuhan, aku takut jika dia mengetahui semuanya, akan merubah apa yang sudah ada. Aku takut dia berubah terhadapku.
Aku terlalu takut mengambil risiko. Tapi biarlah. Suatu saat aku akan mengungkapkan semuanya. Padanya. Tapi bukan sekarang.
Kehadiranmu dikehidupanku lebih penting dari apa yang aku rasakan. Menjadi sekarang juga sudah cukup.
Tuhan.. aku memang mencintainya dengan segenap hatiku, aku titipkan rahasia kecilku hanya untukMu, ku harap Kau tidak cemburu, aku tahu Kau tetap nomor satu dihatiku, biarkan aku menikmati anugerah yang Kau berikan, keindahan yang Kau pampangkan,semua ini. Terimakasih.

No comments:

Post a Comment