Tuesday, June 7, 2011

Sang Bintang

Matahari bersinar cerah hari ini, langit pun ikut tersenyum. Perasaanku terasa nyaman , menghirup oksigen yang menyegarkan ini. Berjalan-jalan menikmati indahnya alam yang Kau ciptakan. Bunga yang mekar, hewan-hewan yang berkeliaran melengkapi alam ini. Pohon-pohon yang hijau , rumput-rumput layaknya karpet hijau yang menghiasi istanaMu, rasanya ingin sekali menyatu dengan alamMu dan menikmati setiap detail keluarbiasaan ciptaanMu.
Pukul 6 tepat, aku harus menghentikan aktivitasku sekarang dan memulai aktvitasku yang lain. Belum puas menikmati semua ini, aku harus pulang dan melakukan pekerjaan yang rutin aku lakukan minimal sekali sehari .. mandi. Jika saja mandi juga bisa membersihkan kotoran di pikiranku di hatiku aku pasti akan melakukannya 24 kali sehari.
Sesampainya dirumah , seperti biasa suara ibu lah yang pertama kali terdengar. “Bintaaaaaang cepat mandi sana, nanti kamu terlambat pergi ke sekolah. Ibu tidak mau di hari pertamamu kamu sudah memperlihatkan kelakuan buruk dengan terlambat!”.
“Siap laksanakan komandan!!! “, aku melesat menuju kamarku , membuka lemari , mengambil baju dan siap memasuki dunia kebersihan , kamar mandi.
“Bintaaaang, kamu mandi lama sekali. Jangan-jangan kamu tidur lagi.”, suara ibu yang mengalahkan auman harimau dilihat dari segi intensitas suara dan tingkat kengeriannya, suara ibu adalah nomor satu tak terkalahkan.
Aku pun keluar dari kamar mandi, melewati ibu yang sibuk memasak didapur dibantu kakakku sambil mondar-mandir membangunkan adikku yang tidurnya sudah mirip orang mati. Sedangkan ayahku sudah duduk di meja makan sambil melihat tv apalagi kalau tidak mendengarkan berita tentang bobroknya negri ini, koruptor yang bebas pergi kemana saja, badan peradilan yang jauh sekali dari keadilan , badan hukum yang menghancurkan hukum itu sendiri, wakil rakyat yang tidak merakyat , dan tingkah laku para orang terhormat yang tidak punya kehormatan. Kalau banyak orang bilang “MAU JADI APA NEGERI INI?”.
Sementara pikiranku sibuk mencerna kegiatan pagi dirumahku, tanganku dengan sigap mengancingkan kemeja putih baruku dan celana merahku. Hari pertamaku di kelas VI SD. Pesan yang selalu di katakana oleh ayahku setiap aku menginjakkan tahun baruku disekolah, sejak aku berumur 4 tahun yang selalu aku ingat,
“Sekolah adalah tempat menuntut ilmu nak, carilah ilmu sebanyak yang kau bisa. Satu-satunya tujuan ayah menyekolahkanmu adalah untuk bekalmu nanti menghadapi dunia, bukan hanya nilai yang bagus yang terpampang di rapormu. Belajarlah dengan ikhlas. Jangan pernah mengeluh dengan semua sistem yang ada di negeri ini.”
Saat pertama kali aku mendengarnya , aku tidak mengerti apa yang beliau ucapkan. Akan tetapi, semakin berkurang umurku sedikit demi sedikit mulai aku mengerti apa yang ingin disampaikan beliau padaku. Aku hanya bisa mendengarkan dengan air mata berlinang. Ayah selalu menyimpan harapan besar kepada ketiga anaknya. Ayah seorang guru SD. Anak seorang kuli bangunan. Untuk bersekolah, ayah membutuhkan perjuangan yang sangat keras. Bahkan mungkin seluruh biaya yang dikeluarkan berasal dari hasil usahanya sendiri. Ibu juga seorang guru SD. Ayah dan Ibu pasti ingin aku, mbak Bulan dan Pelangi adikku bisa meraih sesuatu yang lebih yang telah dicapai ayah dan ibu. Mana mungkin ada orang tua yang ingin anaknya lebih tidak sukses. Ayah dan ibu selalu memberikan yang terbaik yang bisa mereka berikan. Ibu pernah bercerita pada kami bertiga arti nama kami. Bulan, Bintang dan Pelangi. Bulan, yang selalu menerangi langit di malam hari, yang berarti ayah dan ibu berharap mbak Bulan bisa menjadi menjadi penerang bagi sesama, bagi mereka yang masih di zona gelap. Bintang, namaku. Bintang yang juga menerangi langit di malam hari, yang cahayanya tidak pernah padam yang selalu bersinar, ayah dan ibu ingin aku juga menjadi anak yang selalu mempunyai semangat yang tidak pernah padam yang juga bisa menjadi penerang untuk orang lain. Dan Pelangi, fenomena alam yang terjadi setelah hujan deras, Pelangi yang bisa menjadi harapan bagi orang lain yang kehadirannya selalu membuat orang tersenyum. Pada dasarnya ayah dan ibu ingin anak-anaknya menjadi orang yang berguna bagi sesamanya, layaknya bulan bintang dan pelangi yang memancarkan keindahannya masing-masing. Yang mempunyai caranya sendiri untuk menerangi dunia ini. Untuk memberikan keindahan didunia ini.
Saat ibu mengatakan itu semua, kami bertiga seperti terlempar ke dunia mimpi, ke alam lain dimana semua nya mungkin, sehingga kami tidak takut bermimpi meskipun kami hanya anak-anak seorang guru SD. Mbak bulan yang tahun ini naik kelas II SMP, aku yang kelas VI SD dan adikku yang naik kelas IV SD. Mencoba membangun mimpi-mimpi kami. Dan kami menuliskan mimpi-mimpi itu di sebuah buku yang dihadiahkan ayah, yang bersampul bulan, bintang dan pelangi sesuai nama kami. Mbak Bulan yang ingin menjadi seorang Guru, aku yang ingin menjadi seorang arsitek dan Pelangi yang ingin menjadi seorang dokter. Di titik start ini, kami akan mulai berjuang untuk memulai memupuk mimpi kami masing-masing, dengan pupuk yang terbaik dan menanamnya di realitas ini. Apa kami mampu?? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

No comments:

Post a Comment