Kami segera mengambil tas masing-masing , mengambil sepeda dan mengayuhnya ke tujuan masing-masing. Aku dan pelangi berboncengan karena kami ada ditujuan yang sama. Ayah dan Ibu juga sama. Beliau berdua juga berangkat menuju tempat kerja. Aku bersekolah ditempat yang berbeda dengan ayah dan ibu. Ditengah perjalanan, aku melihat fenomena kehidupan yang sudah lumrah terjadi di negeri ini. Anak-anak seumuranku, seumuran Pelangi dan Mbak Bulan yang berkeliaran di jalanan, hak mereka untuk menuntut ilmu terhapus oleh kewajiban mereka membantu orang tua, sesuatu yang sudah pernah dirasakan ayah puluhan tahun lalu.
Dan aku bertanya-tanya , apakah pendidikan hanya bisa dinikmati oleh mereka yang berkantong tebal? Terkadang aku melihat mereka yang mampu bersekolah, tapi hanya main-main disekolah, menghabiskan uang orang tua mereka, dan tidak pernah mendapatkan apa-apa. Dan mereka yang benar-benar ingin bersekolah, terbentur oleh sesuatu yang disebut biaya pendidikan. Ironis sekali. Kenapa tidak sekalian saja mereka bertukar kehidupan. Pikiranku , seorang anak kelas IV SD. Aku merasa sangat bersyukur setidaknya aku masih bisa menikmati bangku sekolah yang bagi mereka sangat mahal. Aku yang mempunyai ayah dan ibu yang luar biasa. Aku sangat bersyukur sekali pada Tuhan.
Tiba-tiba pelangi bertanya, “Mbak, seperti yang biasanya dilihat ayah itu, mereka yang sering disebut wakil rakyat. Apa mereka ndak pernah lihat anak-anak yang putus sekolah ya mbak? Bukannya di UUD ada pasal fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara ya? Dipelihara apanya ya mbak?”
Bahkan anak kelas IV SD saja peduli dengan nasib anak-anak malang itu. Apa mereka yang sudah dewasa itu, yang sudah makan bangku sekolah bertahun-tahun, sekolah tinggi, S1, S2, S3 rasa kepeduliannya sudah lenyap dari hati mereka? Aku bingung mencari jawaban untuk Pelangi.
“Begitulah adanya negeri ini dek, mbak juga ndak tahu. Itu seharusnya menjadi tugas orang dewasa yang duduk di kursi parlemen itu.”
Pelangi terdiam mendengar jawabanku, mungkin dia tidak puas.
Pikiranku kembali menerawang , memikirkan kenapa bapak-ibu yang terhormat itu menyisihkan uangnya untuk kemajuan negeri ini,mungkin mendirikan yayasan anak asuh untuk menyekolahkan mereka menyumbangkan uang mereka untuk menjadi donatur di sekolah-sekolah untuk biaya pendidikan mereka. Apa mungkin mereka terlalu sayang mengeluarkan uangnya untuk hal yang tidak menguntungkan bagi mereka? Padahal menurutku, sebenarnya menguntungkan sekali selain untuk bekal di akhirat nanti (apa mungkin mereka tidak pernah percaya adanya hari pembalasan ya?) mereka juga bisa menabung untuk masa depan mereka nanti setelah mati (mereka nggak akan hidup selamanya kan?), dan apa mereka nggak percaya dengan hukum karma ya?
Terlalu rumit untuk aku pikirkan, bagiku anak kelas VI SD. Memikirkan nasib mereka yang terlantar, kelakukan mereka yang menelantarkan uang, seakan uang tak ada harganya. Mereka yang apatis terhadap lingkungan mereka sendiri, mereka yang benar jadi salah , yang salah jadi benar. Apa Tuhan ndak repot ya, memikirkan masalah-masalah manusia yang seperti itu?
Jawabannya sudah pasti tidak, karena Tuhan Maha Kuasa. Karena itu, serahkan saja semua pada Tuhan. Biar TanganNya yang mengurus semuanya. Yang paling penting adalah apa yang bisa aku perbuat hari ini saat ini sebagai pribadi yang berguna. Bukankah Rasul pernah bilang jika “Sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi sesama.” Dan aku (tepatnya kami = mbak bulan , aku dan pelangi ) ingin menjadi seperti itu seperti pesan Rasul juga pesan ayah.
“Yang penting adek sekolah yang pintar dan bisa menjadi orang yang berguna, dan bisa membantu orang-orang seperti mereka.”,kata-kata bijak yang keluar dari mulutku entah dari mana datangnya.
“Tapi mbak, yang pasti aku ndak mau jadi wakil rakyat, hakim atau jaksa. Aku pengen jadi seorang dokter.”,kata Pelangi polos.
“Kenapa ndak mau? Dan juga kenapa pengen jadi dokter?”
“Pertanggungjawabannya sama Gusti Allah besar mbak. Kayak hakim gitu, kalau ndak adil nanti bisa dimarahin Allah, jaksa juga. Pasti hukumannya berat. Kalau jadi dokter kan bisa nolong banyak orang, bisa jadi orang berguna kayak yang dikasih tahu ayah.”
Aku tersenyum mendengar jawaban dari Pelangi.
“Bagus. Bagus. Karena itu adek harus sekolah yang pinter jangan malas. Dokter harus pinter. Dokter juga punya tanggungjawab yang besar seperti hakim dan jaksa. Bisa dibilang tanggungjawab akan nyawa manusia meskipun tidak sepenuhnya. Tapi ndak apa dek. Dalam prosesnya semua akan berjalan sesuai kehendakNya, tetap semangat ya dek!!! Ayo kita buat perubahan. Hhehehehe. Dan mungkin bisa dimulai dari sekarang. Dari hal yang sederhana.”
“Sekarang? Misalnya apa mbak?”
“Membantu ayah dan ibu, membantu teman kita, tidak berbuat onar, membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan. Hal-hal kecil seperti itu, wujud kita berterimakasih pada alam, pada ayah dan ibu, dan kepada Tuhan dan kita bisa meningkatkannya lagi seiring berjalannya waktu.”
“Iya ya mbak, selama ini aku masih sering buat ayah sama ibu jengkel. Hehehehe. Kalau cita-cita mbak apa?”
“Mbak juga masih sering buat jengkel ayah sama ibu kok dek. Tapi yang pasti ayah dan ibu selalu sayang sama kita senakal apapun kita. Jadi sedikit demi sedikit melakukan perubahan , minimal di diri kita sendiri. Kalau mbak pengen jadi seorang arsitek.”
“Kenapa?” . Akhirnya pertanyaan “kenapa” itu muncul juga. Kami sudah sampai disekolah. Aku turun dari sepeda begitu pula Pelangi.
“Ayo masuk kelas, jawaban nya nanti mbak tanyakan dulu sama Allah ya..hehehe”
Untuk saat ini biarlah aku dan Dia yang tahu.
“Aaaarrgg,, mbak Bintang curang nih..”, Pelangi memasang wajah cemberut. Aku langsung mencubit pipinya yang bulat itu, dan tersenyum kepadanya. Pelangi pun tersenyum , dia mengerti karena bagi kami tidak ada kebencian. Persediaan maaf kami tak terbatas, ntah beberapa tahun kedepan setelah predikat anak-anak sudah terlepas dari kami, saat kami sudah mengenal hiruk pikuk dunia apa masih tersisa kantong maaf dihati kami seperti mereka yang saling menyimpan dendam yang mengerikan. Mereka yang sudah lupa akan ketulusan yang pernah mereka punya saat kanak-kanak.
No comments:
Post a Comment